Showing posts with label Gedung Sate. Show all posts
Showing posts with label Gedung Sate. Show all posts

Wednesday, January 24, 2007

Sehari Di Jakarta

Hari sabtu kemarin saya pulang ke rumah orang tua di Jakarta. Berangkat dari Terminal Leuwi Panjang Bandung jam 15.45 WIB. Seperti biasa, naik bis Primajasa jurusan Lebak Bulus Jakarta. Dengan lama perjalanan, biasanya kurang lebih memakan waktu 3 jam.

Sebelum pulang, sebagaimana diceritakan di blog, saya masih sempat mengikuti seminar anti korupsi di ITB, ngobrol-ngobrol dengan Pak Khaeransyah Salman di Masjid Salman, dan mengunjungi Gedung Sate pada hari yang sama. Seusai aksi, saya juga sempat sedikit beramah tamah dengan Bapak-bapak Intel Polres Bandung Tengah, barulah kemudian saya berangkat ke terminal bersama Bang Topan. Saya yang nyetir motor di depan, dan dia saya bonceng di belakang. Bisa ditebak, hampir sepanjang perjalanan ke Leuwi Panjang kita becandaan.

Aksi di Gedung Sate

Tanda Tangan Anti Korupsi Pak!

Singkat cerita, saya naik bis yang berangkat jam 4 sore dan sampai di rumah jam 18.50 WIB. Masih dapat waktu sholat maghrib. Akan tetapi, kondisi rumah kosong. Ayah dan Mama plus Farhan (adik sepupu saya) lagi pergi ke Erlangga-Kebayoran Baru, ke Rumah Pakde Seno. Jadilah akhirnya saya sendirian di rumah. Makan malam + ngangetin nasinya juga sendiri, tapi bersyukur karena lauk yang dimasakin mama enak bener. Udang dengan bumbu beef yakiniku di hoka hoka bento. Hipotesis saya, masakannya lebih pas dibilang Udang yakiniku kali ya.

Beef Yakiniku

Selain itu di kulkas banyak bener cemilan yang bisa dimakan. Ada sneakers, jeruk, korma, dan coklat-coklat lain yang lumayan mengenyangkan. Sampai akhirnya gak terasa udah jam 21 dan Ayah+Mama+Farhan tiba di rumah. Jadi, acara Lepas kangen pun tetap bisa terlaksana malam itu juga.

Snickers Chocolate

Hari Minggu, bangun kesiangan. Kayaknya tuh kasur terlalu empuk. Nih badan tau aja di kosan gak ada yang springbed, pas ketemu yang empukan dikit langsung ketagihan.

Sarapan pagi, ayah masakin nasi goreng kambing. Kenyang euy. Susu juga dibuatin sama Mama. Abis itu bimbingan masalah TA ke Ayah di Ruang Tamu. Sehingga akhirnya dari obrolan kemarin didapat pencerahan yang lumayan signifikan bagi kelangsungan hidup TA Arki.

Agak siang, sekitar jam setengah satu siang. Ayah ngajakin pergi makan di luar terus sekalian mau ke Mal Ambassador, buat service HP ayah yang kemarin sempat rusak pas lagi dibawa pergi ke Narita.

Ayah dan Mama

Ayah

Farhan


Tukang Foto (Memfoto diri sendiri)

15.30 WIB
Kita sampai di Mal Ambassador. Jalanan di sekitar kuningan macet parah. Parkir mobil pun gak bisa di parkiran Malnya langsung. Kita akhirnya parkir di tempat parkir ITC kuningan yang bersambungan dengan Mal Ambassador. Seperti biasa, hari minggu mal dipadati pengunjung. Dan kita menjadi salah satu diantaranya. Kita disana sampai jam 6 sore. Hp ayah baru selesai dibenerin jam segitu. Sepulangnya dari sana kita mampir di rumah Pakde Seno, niatnya buat numpang sholat maghrib. Eh gak taunya malah sekalian sholat Isya dan makan malam. Kita pun pulang ke rumah jam 20.30 dengan lama perjalanan 1 jam untuk sampai di rumah.
Pakde Seno (Mayjen Purn Polisi)

Adzra (Anaknya kak Maya)

Esok harinya, jam enam pagi saya udah berangkat lagi dari rumah menuju bandung. Di drop ayah yang mau berangkat kerja di terminal Lebak Bulus. Sampai di sana, pas bener ada Bis jurusan Jakarta-Tasik yang udah siap- berangkat.

------------------------------------------------
Judul postingan ini, Sehari di Jakarta. Meskipun sebenarnya saya sudah tiba di jakarta Sabtu malam dan pulang ke bandung Senin Pagi. Akan tetapi dengan pertimbangan jumlah waktu efektif, maka saya rasa lebih pas kalau dibilang saya hanya berada di Jakarta selama sehari.

Salam Pejuang TA!

Wassalam.

Monday, January 22, 2007

SEKANTOR (Finish)

Sabtu kemarin, saya kembali bertandang ke ITB dalam rangka mengikuti SEKANTOR. Masih dengan tema yang sama, yaitu Membangun Gerakan Pemuda dalam pemberantasan Korupsi di Indonesia.

SEKANTOR yang bertempat di Aula Timur ITB


Pembicara yang hadir belum ada yang familiar di kuping saya, kecuali pak Khairansyah Salman. Salah satu anggota KPK yang berhasil meringkus pelaku korupsi di KPU. dalam diskusi tersebut beliau memaparkan betapa ruwetnya skema kebocoran dana di Indonesia. Terlebih lagi kebocoran tersebut terjadi tidak hanya pada instansi pemerintahan, melainkan juga pada masyarakat dan swasta.

Khairansyah Salman


Sehingga kemudian beliau mengajak kita berpikir, kira-kira mahasiswa akan memulai dari elemen yang mana? Pemerintah, masyarakat ataukah swasta? Lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menumpas habis korupsi di Indonesia?Itu semua memang tidak harus terjawab saat ini, akan tetapi sangat penting untuk dipikirkan saat ini dan tentunya untuk diambil tindakan yang nyata pada masa yang akan datang. Bisa itu semenit, sehari, sebulan, ataupun setahun lagi. Bergantung pada kita, pemegang kunci perubahan di Indonesia.

Tukang Foto


Sebenarnya tema acara kemarin agak melenceng dari tujuannya. Karena isi materi yang didiskusikan dalam forum tersebut tidak banyak menekankan pada peran-peran strategis mahasiswa dalam memberantas korupsi di negara kita. Sehingga menurut saya acara kemarin tidak jauh beda dengan seminar yang diisi oleh Lendo Novo, Ihsanudin Noersy, dst. pada hari Rabu, 17 Januari 2006.

Seminar berakhir pada pukul 13.00 WIB. Ditutup dengan persembahan dari UKM seni dan budaya Sunda ITB (LSS ITB), yang mengundang tawa dari seluruh audiens di Aula Timur ITB. Selepas itu, peserta dipersilahkan melaksanakan sholat Zhuhur. Saya dan Topan pun segera menuju Masjid Salman. Selesai sholat zhuhur dan jamak ashar (saya berencana pulang ke Jakarta setelah acara berakhir), saya segera ke tempat penitipan sepatu karena sepertinya topan sudah duluan ke sana. Sesampainya di depan salman, bang top sudah menunggu. Dengan tampang yang kelaperan, dia ngajak saya ngambil makan siang ke ITB. Ya, akhirnya kami bergegas, takut kehabisan

(sambil jalan ke arah kampus ITB, tiba-tiba...)

"Fan, fan..itu Khairansyah Salman!", kataku. "Kita minta kartu namanya yok!"
Tanpa pikir panjang, langsung aja kita mendekat dan memperkenalkan diri ke beliau dan memberitahukan bahwa kita dari STT Telkom. Usai bersalaman kami langsung minta kartu namanya. Beliau memberikan kepada kami masing-masing satu kartu namanya. Sayang Ketua Dewan dan Menkopolkum hingga kini belum punya kartu nama. Jadinya gak ada yang bisa ditukarkan kepada Pak Khairansyah. Masak pake KTP? Gak lucu banget kan!!
Ah gak penting..sok-sok an aja itu mah. Hehehe...

Sempat juga terjadi obrolan ringan. Salah satunya, berkembang dari pertanyaan tentang alamat tempat tinggal beliau, yang ternyata satu daerah dengan rumah orang tua saya di Ciputat. Hanya saja beliau di Pamulang Permai, yang mana untuk mencapainya harus melewati ps. Ciputat dengan kemacetannya atau melalui Cirendeu/Pondok Cabe.

Btw, tanpa disangka juga, ternyata acara Sekantor juga ditutup dengan pawai anti korupsi yang rutenya ITB-Gedung Sate. Polisi pada panik, maklum pemberitahuannya agak mendadak. Hehehe..maaf ya pak! Namanya juga mahasiswa.

Barisan STT Telkom


Tapi tenang aja, aksi kita damai-damai saja kok. Apalagi teman-teman KM ITB benar-benar menjaga kondusivitas aksi. Sampai-sampai pagar Gedung Sate pun juga tidak boleh digoyangkan oleh peserta aksi.

Rekan-rekan KM ITB berjaga-jaga di depan pagar Gedung Sate


Yah,...gak seru banget kan. Padahal, nyang namenye ngingetin korupsi mah, jangan tanggung-tanggung! Itu kan kejahatan terhadap kemanusiaan..

 
Design by Wordpress Theme | Blogger Templates | JCPenney