Sunday, February 25, 2007

Kecelakaan Transportasi dan Kita

Saudara-saudaraku, kembali hati ini berduka atas kecelakaan kapal Levina di laut Jawa. Entah bagaimana ceritanya, kapal ini terbakar dan kemudian tenggelam. Belakangan, beberapa wartawan dan anggota kepolisian pun juga menjadi korban susulan, sebab mereka tengah berada di atas kapal beberapa saat sebelum kapal naas itu tenggelam.

Berbicara tentang musibah kecelakaan transportasi yang terjadi Indonesia, sepertinya awal tahun 2007 menjadi masa-masa kelam bagi bidang transportasi di Indonesia. Isu-isu yang berkaitan dengan hal ini sangat ramai sekali diberitakan di berbagai media dalam kurun waktu ke belakang. Dimulai dari, pesawat AdamAir yang hilang di perairan sulawesi, Kapal Senopati yang tenggelam di dekat Surabaya, pesawat Batavia Air yang gagal tinggal landas, lalu patahnya badan pesawat AdamAir (lagi-lagi), dan yang terkini yaitu peristiwa terbakarnya kapal Levina yang kemudian hari ini tenggelam di perairan laut jawa dengan menewaskan puluhan korban jiwa.

Innalillahi wa inna ilaihi ro ji'un

Kesemua kejadian tersebut tentu telah mengisi ingatan kita, dan bahkan menjadi trauma tersendiri bagi sebagian orang. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa para keluarga korban yang ditinggalkan, pasti merasa begitu kehilangan atas kepergian sanak saudaranya. Yang sangat mungkin, ketika peristiwa itu terjadi para korban tengah berupaya memenuhi janji atau urusannya di tempat tujuan. Mudah-mudahan Allah SWT memberi tempat yang terbaik di alam sana bagi mereka semua.

Beberapa masalah sosial di Indonesia seperti; semburan lumpur Sidoarjo di Jawa Timur dan banjir di Jakarta, hingga kini juga belum bisa diatasi sampai tuntas. Semua pihak masih berusaha, khususnya pemerintah. Kan tetapi jangan lupakan, uluran tangan secepatnya harus diberikan kepada saudara-saudara kita di sana.

Sehingga saya pun mendeskripsikan kondisi Indonesia saat ini seperti peribahasa, "Habis jatuh tertimpa tangga pula". Sebagaimana cobaan yang tak kunjung berhenti melanda Indonesia.

Oleh karena itu, dengan tulisan ini saya coba mengingatkan kembali mengenai peran kita sebagai manusia di muka bumi ini. Peran yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang masih
"sangat-sangat peka" dan memiliki hati. Apa sebab? Karena saat ini, sandiwara salah-salahan; mengkambing-hitamkan; ataupun saling klaim sudah tidak dibutuhkan lagi di bumi pertiwi. Lebih penting kita melakukan kerja-kerja yang nyata yang memang bisa kita lakukan terhadap segala musibah yang telah terjadi.


Dedicated with full empathy,

Arki Rifazka

0 comments:

 
Design by Wordpress Theme | Blogger Templates | JCPenney